PAHLAWAN TANPA TANDA JASA

( bukan berarti gaji rendahan )

Guru memiliki sebutan (pen:embel-embel): PAHLAWAN TANPA TANDA JASA. Sebuah sebutan yang menurut saya merendahkan martabat guru, kalau boleh disebut tidak menghargai jasa guru.

Saya pernah mengajak teman guru yang ahli bahasa Indonesia untuk berdiskusi mengenai masalah ini.Menurut beliau:
Pahlawan = orang yang berjasa besar kepada bangsa dengan pengorbanan yang besar pula, bahkan rela berkorban nyawa.
Guru = orang yang pekerjaanya mendidik baik itu di rumah, di masyarakat maupun di sekolah.
Khusus untuk diskusi kali ini, yang dimaksud guru adalah pengajar di sekolah, baik sekolah negeri atau swasta.

Tanda jasa = sebuah tanda penghormatan atau penghargaan atas jasa seseorang yang dianggap sangat berarti.

Bila kita amati, maka guru di asosiasikan sebagai Pahlawan, tetapi yang sangat menyakitkan, divonis/disepakati/diumumkan bahwa ia tanpa tanda jasa….!

Bagi pihak penerima, dalam hal ini guru, “tanpa tanda jasa” bisa diartikan bahwa guru tidak mengharapkan atau meminta penghargaan dalam melaksanakan tugasnya. Ia ikhlas dan menerima mengajar dengan gaji yang tidak mencukupi kebutuhan hidup dalam sebulan.

Pemberi tanda jasa (masyarakat/pemerintah) akan mengartikan embel-embel ini bahwa sudah takdirnya: GURU TIDAK PERLU DIBERI TANDA JASA…!!! Akibatnya pemerintah dan masyarakat tidak merasa berkewajiban memberikan tanda jasa. Sungguh …

Hasilnya? kita lihat saja kehidupan guru sekarang ini. Ada yang sampai pensiun tidak bisa membeli rumah. Hampir semua guru membeli sepeda motor untuk pergi ke sekolah dengan kredit. Gaji yang diterima sering kali tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarga dalam sebulan. Akhirnya sang Guru harus mencari akal dan memutar otak untuk menambah penghasilan selain gaji.

Akibatnya, ada guru yang berprofesi ganda, pagi sebagai guru, sore sebagai tukang ojek, petani, berdagang, bahkan ada kepala sekolah yang bekerja sambilan sebagai tukang becak.

Kenapa? karena nasibnya kurang diperhatikan. Kesejahteraan hidupnya masih dalam mimpi. Fasilitas mengajar disekolahnya masih seperti zaman kolonial, kapur dan papan tulis. Buku-bukunya masih buku-buku zaman behaula.

Kalau boleh membandingkan ke masa penjajahan Belanda, gaji seorang guru saat itu satu bulannya bisa untuk membeli Sepeda Golden. Kalau ditaksir harganya sekarang setara harga sebuah sepeda motor bebek. Bahkan ada orang yang sinis, bahwa pemerintah sekarang perhatiannya terhadap dunia pendidikan ternyata lebih baik pemerintah kolonial Belanda.

Kalau mau perbandingan zaman sekarang, menurut teman yang pernah ke Malaysia, katanya gaji guru di sana 1 bulan cukup untuk di makan 3 bulan. Fasilitas pendidikan sudah canggih dan lengkap.

Lalu ada yang berkomentar sinis, Haiii bapak dan ibu Guru, jangan banyak menuntut, jangan banyak menyalahkan, kemampuan pemerintah dalam membiayai pendidikan cuma sampai di sini……..

Engkau salah, wahai tukang kritik. Ketahuilah, guru tidak sukan menuntut (makanya jarang guru ada demonstrasi), guru tidak suka menyalahkan (kecuali dalam ulangan di kelas).. Seharusnya kalian semua yang sadar:
Darimana engkau mampu membaca…? kalau tidak diajarkan guru
Darimana engaku bisa menulis blog ini…? kalau tidak diajarkan guru
Darimana para pejabat itu memperoleh kepintaran…? kalau bukan dari guru

Sekaranglah saatnya! wahai semua yang merasa pernah diajari oleh seorang guru: hargai mereka, perhatikan mereka, karena ilmu tidak akan bermanfaat jika seorang murid tidak menghargai guru.

Langkah pertama: HILANGKAN gelar/embel-embel merendahkan: GURU PAHLAWAN TANPA TANDA JASA. GANTILAH dengan gelar GURU PAHLAWAN BANGSA!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: