Arsip untuk Agustus, 2008

Menjelang Ramadhan

Posted in 1 on 29 Agustus 2008 by uchonrara

Genap se-tahun jadi guru

Posted in 1 on 29 Agustus 2008 by uchonrara

Tidak terasa saya sudah Genap se- tahun  menjadi guru di SD itu pun mungkin panggilan kali yaa

Ternyata banyak juga yang saya rasakan bahwa menjadi guru itu sangat menarik walaupun itu saya rasakan agak menjadi tantangan bahwa saya ini sangat bertentangan sekali dengan skill yang saya punya,tetapi yang saya rasakan bahwa menjadi guru itu membuat saya banyak yang harus saya mengerti, tetapi itu bukan hambatan atau menjadikan saya tidak tertarik dengan impian saya biar sekolah saya tetap memajukan pendidikan di sekolah.

Dalam hati kenapa saya bisa disini ya, padahal saya ini orang tehknik, tapi paling tidak saya bisa membuat anak murid senang ndengan hadirnya saya. Murid-murid itu ternyata mudah sekali dapat juga dibentuk sesuai dengan apa yang kita mau, tapi jangan salah hati- hati kalau bisa juga jadi salah dalam mendidikan anak (siswa). Harus banyak belajar juga dari teman seprofesi atu juga dengan cara sesering mungkin saya banyak bertanya setidaknya harus komunikatif dengan guru-guru, tidak lepas juag dengan oarng tua murid yang ada. Ini semua buat acuan saya bahwa mendidik anak (siswa) itu tidak segampang membalik telapang tangan.

Paling tidak seorang guru itu menjadi suritauladan bagi siswanya

GURU MALAS MENGAJAR (HATI-HATI DENGAN GURU INI )

Posted in 1 with tags , on 20 Agustus 2008 by uchonrara

  1. KARENA GURU TIDAK MEMAHAMI SUATU MATERI YANG AKAN DIBERIKAN KEPADA ANAK DIDIKNYA (GURU BODOH)

  2. GURU HONOR YANG DIBAYAR RENDAH

  3. GURU TERLALU CAPEK CARI TAMBAHAN PENGHASILAN

  4. GURU LEBIH MEMENTINGKAN URUSAN KELUARGA

  5. GURU BANYAK PROYEK LEBIH BESAR PENGHASILANNYA DARI PADA MENGAJAR

  6. GURU TAKUT KETINGGALAN INFORMASI AKHIRNYA BANYAK DIKANTOR UNTUK NGOBROL YANG NGGA PERLU

  7. GURU MERASA SUDAH PNS ( SEENAK-ENAKNYA NGAJAR )

  8. GURU KURANG KOMUNIKATIF SESAMA GURU YANG LAIN

  9. GURU BANYAK ALASAN

  10. DLL.

Beberapa Alasan Guru Ngebut Ngajar ( Guru Pemalas )

Posted in 1 on 20 Agustus 2008 by uchonrara

jika Anda merasa guru Anda “ngebut” di kelas dalam memberikan suatu materi, berikut beberapa alasan hasil penelitian penulis terhadap guru-guru di sekolah tercinta ini:

  1. Sang guru tak menguasai materi dengan kata lain goblok sehingga sang guru tak ingin muridnya bertanya lebih mendalam tentang pelajaran tersebut (berhubung murid-murid di sini titis semua jika mengajukan suatu pertanyaan) atau dia berpikir dengan melanjutkan teruz materinya, kegoblokannya tidak akan diketahui oleh murid-muridnya, jadi dia hanya memberikan inti dari pelajaran tersebut kemudian memberikan banyak tugas (yang penulis yakin belum tentu guru tersebut bisa mengerjakan soalnya sendiri) untuk dikerjakan muridnya. Biasanya sih, tugas ini dijadikan PR sehingga sang murid nanti bisa bertanya pada guru lesnya jika tidak mengerti dan pada pertemuan berikutnya sang guru menyuruh muridnya maju mengerjakan di depan dan berlagak memeriksa jawaban tersebut tetapi pada dasarnya dia sedang mempelajari cara-cara mengerjakan soal tersebut melalui hasil pengerjaan muridnya.

  2. Sang guru pemalas atau tidak pandai menjelaskan. Jika dia menjelaskan, para muridnya akan memandang papan dengan tatapan kosong karena tak mengerti apa yang diocehkan oleh sang guru, daripada si guru ini disuruh mengulang menjelaskan lagi padahal dia sudah capek menjelaskan (ditambah lagi waktu itu sudah jam terakhir) dia berpikir lebih baik lanjut ke materi berikutnya saja agar dia aman. Nanti dia tinggal memberi tugas dan jika anak-anaknya tidak mengerti, dia berpikir mereka bisa bertanya pada guru les mereka.

  3. Sang guru adalah makhluk munafik, mereka berkata agar kita menjalankan 3 nilai yang dadopsi oleh sekolah ini yaitu respect, responsibility, dan honesty. Tetapi nyatanya mereka sendiri tidak menjalankan 3 nilai tersebut pada para muridnya. Mengenai respek, di sini sudah sangat jelas konteksnya bahwa kita harus menghargai orang lain. Apakah sang guru sudah menghargai muridnya? Sama sekali tidak! Mereka tidak segan-segan untuk membunuh para muridnya dengan memberikan banyak sekali tugas, saling berlomba mengisi penuh papan jadwal ulangan, memberikan waktu mepet untuk penyelesaian tugas, dsb. seakan-akan kita adalah binatang yang harus terus dicambuk agar bisa berjalan. Mereka tidak memikirkan kelelahan kita dan tak menghargai segala daya upaya kita untuk mengharumkan nama sekolah kita ini atau membuat suasana sekolah kita ini baik (contohnya mereka tak menghargai mereka yang terlibat dalam organisasi, tim sport, tim web, tim paduan suara, dll.) dengan tak memberikan sedikitpun dispensasi. Masalah tanggung jawab mereka sudah pasti bisa dikatakan tak bertanggung jawab. Tugas dari para guru adalah membantu murid mengerti tentang sesuatu, tetapi dengan ngebut belajar hal itu tak mungkin dapat dilaksanakan karena bukannya para murid dapat segera mengerti malah bisa bingung-bingung sendiri muridnya dan justru memberikan beban mental yang berat sehingga para murid dapat mengalami stress bahkan bisa jadi mengalami stroke sebelum umur 20 tahun. Masalah kejujuran mereka juga perlu dipertanyakan. Mereka menulis di jurnal telah mengajarkan ini dan itu, memang benar mereka mengajarkan hal tersebut tetapi tidak secara kesuluruhan dan yang pasti murid-murid mayoritas tak akan mengerti apa yang diajarkannya. Jadi kesimpulannya, guru-guru ini adalah makhluk munafik.

PAHLAWAN TANPA TANDA JASA

Posted in 1 on 20 Agustus 2008 by uchonrara

( bukan berarti gaji rendahan )

Guru memiliki sebutan (pen:embel-embel): PAHLAWAN TANPA TANDA JASA. Sebuah sebutan yang menurut saya merendahkan martabat guru, kalau boleh disebut tidak menghargai jasa guru.

Saya pernah mengajak teman guru yang ahli bahasa Indonesia untuk berdiskusi mengenai masalah ini.Menurut beliau:
Pahlawan = orang yang berjasa besar kepada bangsa dengan pengorbanan yang besar pula, bahkan rela berkorban nyawa.
Guru = orang yang pekerjaanya mendidik baik itu di rumah, di masyarakat maupun di sekolah.
Khusus untuk diskusi kali ini, yang dimaksud guru adalah pengajar di sekolah, baik sekolah negeri atau swasta.

Tanda jasa = sebuah tanda penghormatan atau penghargaan atas jasa seseorang yang dianggap sangat berarti.

Bila kita amati, maka guru di asosiasikan sebagai Pahlawan, tetapi yang sangat menyakitkan, divonis/disepakati/diumumkan bahwa ia tanpa tanda jasa….!

Bagi pihak penerima, dalam hal ini guru, “tanpa tanda jasa” bisa diartikan bahwa guru tidak mengharapkan atau meminta penghargaan dalam melaksanakan tugasnya. Ia ikhlas dan menerima mengajar dengan gaji yang tidak mencukupi kebutuhan hidup dalam sebulan.

Pemberi tanda jasa (masyarakat/pemerintah) akan mengartikan embel-embel ini bahwa sudah takdirnya: GURU TIDAK PERLU DIBERI TANDA JASA…!!! Akibatnya pemerintah dan masyarakat tidak merasa berkewajiban memberikan tanda jasa. Sungguh …

Hasilnya? kita lihat saja kehidupan guru sekarang ini. Ada yang sampai pensiun tidak bisa membeli rumah. Hampir semua guru membeli sepeda motor untuk pergi ke sekolah dengan kredit. Gaji yang diterima sering kali tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarga dalam sebulan. Akhirnya sang Guru harus mencari akal dan memutar otak untuk menambah penghasilan selain gaji.

Akibatnya, ada guru yang berprofesi ganda, pagi sebagai guru, sore sebagai tukang ojek, petani, berdagang, bahkan ada kepala sekolah yang bekerja sambilan sebagai tukang becak.

Kenapa? karena nasibnya kurang diperhatikan. Kesejahteraan hidupnya masih dalam mimpi. Fasilitas mengajar disekolahnya masih seperti zaman kolonial, kapur dan papan tulis. Buku-bukunya masih buku-buku zaman behaula.

Kalau boleh membandingkan ke masa penjajahan Belanda, gaji seorang guru saat itu satu bulannya bisa untuk membeli Sepeda Golden. Kalau ditaksir harganya sekarang setara harga sebuah sepeda motor bebek. Bahkan ada orang yang sinis, bahwa pemerintah sekarang perhatiannya terhadap dunia pendidikan ternyata lebih baik pemerintah kolonial Belanda.

Kalau mau perbandingan zaman sekarang, menurut teman yang pernah ke Malaysia, katanya gaji guru di sana 1 bulan cukup untuk di makan 3 bulan. Fasilitas pendidikan sudah canggih dan lengkap.

Lalu ada yang berkomentar sinis, Haiii bapak dan ibu Guru, jangan banyak menuntut, jangan banyak menyalahkan, kemampuan pemerintah dalam membiayai pendidikan cuma sampai di sini……..

Engkau salah, wahai tukang kritik. Ketahuilah, guru tidak sukan menuntut (makanya jarang guru ada demonstrasi), guru tidak suka menyalahkan (kecuali dalam ulangan di kelas).. Seharusnya kalian semua yang sadar:
Darimana engkau mampu membaca…? kalau tidak diajarkan guru
Darimana engaku bisa menulis blog ini…? kalau tidak diajarkan guru
Darimana para pejabat itu memperoleh kepintaran…? kalau bukan dari guru

Sekaranglah saatnya! wahai semua yang merasa pernah diajari oleh seorang guru: hargai mereka, perhatikan mereka, karena ilmu tidak akan bermanfaat jika seorang murid tidak menghargai guru.

Langkah pertama: HILANGKAN gelar/embel-embel merendahkan: GURU PAHLAWAN TANPA TANDA JASA. GANTILAH dengan gelar GURU PAHLAWAN BANGSA!

Bidang pendidikan tetap menjadi prioritas utama Pemerintah.

Posted in 1 on 20 Agustus 2008 by uchonrara
pidato presiden tentang bidang pendidikan

pidato presiden tentang bidang pendidikan

Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air,
Hadirin yang saya muliakan,
Bidang pendidikan tetap menjadi prioritas utama Pemerintah. Dalam beberapa tahun terakhir, alokasi anggaran Departemen Pendidikan Nasional, merupakan alokasi anggaran tertinggi dibandingkan dengan departemen lainnya. Anggaran pendidikan telah meningkat hampir dua kali lipat dari Rp 78,5 triliun pada tahun 2005, menjadi Rp 154,2 triliun pada tahun 2008. Bahkan, alhamdulillah, untuk tahun anggaran 2009, di tengah-tengah krisis harga minyak dan pangan dunia yang berdampak pada perekono-mian kita, kita telah bisa memenuhi anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN sebagaimana diamanatkan oleh konstitusi.

Kenaikan anggaran tersebut, digunakan antara lain untuk melakukan rehabilitasi gedung sekolah dan membangun puluhan ribu kelas dan ribuan sekolah baru. Sejalan dengan semangat desentralisasi, pemerintah sejak tahun 2005 memberikan hibah dalam bentuk bantuan operasional langsung ke sekolah yang dikenal dengan Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Kita berharap, melalui program BOS ditambah dengan partisipasi pemerintah daerah, program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun, dapat dilakukan secara efektif dengan biaya yang rendah dan terjangkau oleh masyarakat.

Saya menyadari pula, walaupun biaya sekolah telah diturunkan, masih ada keluarga Indonesia yang tidak mampu mengirimkan anaknya ke sekolah. Pemerintah mengatasi masalah ini dengan memberikan bantuan langsung tunai kepada keluarga miskin, dengan syarat anak-anak mereka tetap harus masuk sekolah. BLT bersyarat ini, dikenal juga sebagai Program Keluarga Harapan (PKH) yang telah dilaksanakan di 73 kabupaten / kota. Ke depan, program ini, akan diperluas karena berpotensi memutus rantai kemiskinan antar generasi. Di samping PKH, pemerintah menyediakan beasiswa untuk lebih dari satu juta siswa SD / MI, lebih dari 600 ribu siswa SMP / MTs, 900 ribu siswa SMA/SMK/MA, dan lebih dari 200 ribu mahasiswa PT / PTA. Sebagian besar siswa dan mahasiswa tersebut, berasal dari keluarga tidak mampu.

Khusus untuk anak-anak kita yang berprestasi cemerlang, yang telah mengharumkan nama bangsa dan negara dengan meraih medali emas dalam olimpiade berbagai cabang ilmu pengetahuan tingkat internasional, Pemerintah akan memberikan beasiswa, untuk menuntut ilmu di universitas manapun di seluruh dunia, sampai mencapai gelar doktor. Kita berharap di masa depan, akan ada putra-putri bangsa Indonesia yang berada di garis depan kemajuan ilmu dan teknologi dunia, bahkan kalau bisa meraih hadiah Nobel. Kita patut bersyukur, pada tahun 2007, kontingen Indonesia berhasil memperoleh 51 medali emas dari berbagai olimpiade sains internasional. Suatu prestasi yang cemerlang dan membanggakan.

Di sisi lain, pendidikan sangat bergantung pula pada kompetensi dan profesionalisme guru dan dosen. Pemerintah terus memperhatikan perbaikan kesejahteraan dan kualitas kompetensi guru, antara lain dengan menaikkan penghasilan mereka. Pada tahun 2004 penghasilan yang diterima guru golongan terendah masih Rp 842,6 ribu per bulan, pada tahun 2008 telah mencapai Rp1,854 juta, atau naik lebih dari dua kali lipat. Langkah lain, kita lakukan dengan meningkatkan kualitas guru dan dosen melalui program peningkatan kualifikasi akademik S1 dan D4 bagi guru, dan pendidikan S2 dan S3 bagi dosen.

Dengan dipenuhinya amanat konstitusi untuk alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN ini, maka lebih banyak lagi yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita di semua aspek. Ini termasuk gedung sekolah, perpustakaan dan laboratorium sekolah, bea siswa, kompetensi dan kesejahteraan guru, dan sebagainya. Ini semua adalah investasi kita, untuk meningkatkan daya saing bangsa, demi masa depan bangsa yang gemilang.

Buku Mahal akibat Kolusi

Posted in 1 on 7 Agustus 2008 by uchonrara

Depdiknas Tidak Bisa Menindak

JAKARTA, KOMPAS – Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengatakan, mahalnya harga buku pelajaran, antara lain, disebabkan adanya kolusi antara penerbit dan oknum pihak sekolah serta tawaran komisi yang diberikan kepada sekolah. Peristiwa ini selalu terjadi hampir setiap tahun.

Persoalan lain yang dihadapi dunia pendidikan adalah tidak semua buku teks telah memenuhi persyaratan kelayakan tetapi sudah dijual kepada murid lewat sekolah maupun koperasi sekolah.

”Selain itu, buku teks yang ditetapkan sekolah selalu berganti setiap tahun,” kata Bambang Sudibyo pada lokakarya ”Menata Kembali Distribusi Buku Indonesia dan Membangun 1.000 Toko Buku Mobil di Kabupaten/Kota” yang berlangsung di Jakarta, Kamis (24/7).

Soal kolusi penerbit dengan sekolah, menurut Bambang, pihaknya tak bisa menindak langsung karena sekarang sudah otonomi daerah. Yang bisa menindak adalah wali kota, bupati, kepala dinas, atau gubernur.

”Tetapi, jika menemukan kasus, silakan laporkan kepada saya. Nanti saya akan meminta bupati, wali kota, atau gubernur untuk menindaklanjuti,” ujarnya.

Tentang dana komisi, menurut Mendiknas, lebih baik digunakan sekolah untuk mendorong peningkatan minat baca siswa.

Adapun untuk memenuhi standar buku pelajaran bermutu, Depdiknas mendukung penilaian buku teks pelajaran yang dilakukan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

Toko buku terpukul

Fenomena penerbit yang langsung mendatangi sekolah, menurut Ketua Pusat Buku Indonesia Firdaus Umar, mengakibatkan usaha toko buku terpukul. ”Gabungan Toko Buku Indonesia mencatat, jumlah toko buku pernah turun drastis, dari 3.000 menjadi hanya 400,” ujarnya.

Secara terpisah, ratusan orangtua murid, siswa, dan aktivis lembaga swadaya masyarakat, Kamis siang, berunjuk rasa ke Kantor Depdiknas di Jakarta guna memprotes mahalnya harga buku pelajaran.

Suparman, Ketua Federasi Guru Independen Indonesia, mengatakan, memang ada oknum kepala sekolah dan guru yang tertarik dengan tawaran penerbit untuk memakai buku tertentu karena ada tawaran komisi. ”Namun, ini tidak terlepas dari kesalahan pemerintah yang kurang memerhatikan kesejahteraan guru serta tidak menyediakan buku gratis untuk siswa” ujarnya.

Di Makassar, sejumlah orangtua siswa berunjuk rasa ke Kantor Gubernur Sulawesi Selatan. Karena takut dituding berbisnis buku, sekolah akhirnya tidak mau menjual buku dan akibatnya murid-murid kebingungan.

%d blogger menyukai ini: