Harapan bagi dunia pendidikan kita

<!– @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

Harapan bagi dunia pendidikan kita

Oleh Linda Araini


Zaman penjajahan, rakyat Indonesia telah banyak mengalami penderitaan bukan hanya karena siksaan akibat kerja paksa, keterbelakangan, kelaparan dan yang terpenting adalah kebodohan. Pada masa itu, rakyat Indonesia yang berada pada strata bawah tidak bisa mengenyam pendidikan seperti pada orang-orang yang bisa disebut golongan bangsawan.

Golongan ini bisa bersekolah dan menuntut ilmu di sekolah-sekolah yang didirikan Belanda saat itu. Mereka mendapat ilmu dan pengetahuan yang juga dibutuhkan oleh rakyat jelata. Masyarakat Indonesia tenggelam dalam kebodohan yang mereka tidak inginkan.

Dari golongan bangsawan yang bersekolah itulah yang nantinya menjadi perintis dari lahirnya gerakan untuk memajukan pendidikan bagi rakyat Indonesia. Budi Oetomo, organisasi pertama yang mengawali gerakan dari kaum intelektual walaupun organisasi itu hanya terbatas di wilayah Jawa namun sudah membuktikan bahwa kaum muda yang berpendidikan bisa mengaplikasikan ilmu dan pengetahuan yang didapatnya untuk mensejahterakan rakyat terutama dalam memajukan pendidikan rakyat Indonesia yang saat itu ditelantarkan oleh Belanda.

Setelah lahirnya Budi Oetomo, tokoh yang terkenal yaitu Ki Hajar Dewantara. Beliau adalah tokoh yang berjasa dalam dunia pendidikan. Dari semua perjuangan yang telah mereka lakukan bagi bangsa, bukankah seharusnya kita harus memajukan pendidikan negeri ini agar dari tahun ke tahun semakin baik karena Kebangkitan Nasional tidak bisa dilepaskan dari aspek pendidikan yang merupakan awal dari majunya peradaban.

Namun, tak bisa disangkal dunia pendidikan adalah suatu tempat yang membutuhkan kerja keras agar segala tujuan yang telah ditentukan dapat tercapai terutama pemerataan pendidikan karena masyarakat Indonesia baik itu dari kelas bawah, menengah maupun atas semua sama-sama memiliki hak untuk mendapatkan pengajaran.

Bukankah kita tidak mau bodoh seperti pada masa penjajahan. Rakyat Indonesia perlu diberdayakan, karena itu hendaknya sejak dini seorang anak perlu dikenalkan pada pendidikan, bahwa pendidikan itu adalah proyek jangka panjang. Mungkin saja bagi segelintir orang menganggap bahwa kenapa harus susah-susah sekolah atau kuliah di Perguruan Tinggi jika akhirnya menganggur.

Namun, sebaiknya kita harus membuka pikiran bahwa dengan bersekolah kita bisa mengetahui sesuatu yang belum kita tahu, belajar apa yang belum kita bisa, memahami mengapa sesuatu itu bisa terjadi dan kenapa, menggali bakat dan mengembangkannya, mengasah keterampilan kita dan belajar untuk berorganisasi dan menjadi sebuah pendorong semangat kita untuk meraih cita-cita.

Dengan belajar kita tidak akan rugi sama sekali, kita bisa mencapai sesuatu yang belum tentu orang lain bisa karena suatu saat ilmu yang telah kita dapat selama mengenyam pendidikan itu akan membantu kita dan berguna bagi orang lain.

Namun kenyataannya, pendidikan kita sekarang dilanda krisis multidimensi, diantaranya krisis ekonomi dan krisis akhlak yang di mana seharusnya pendidikan berperan penting dalam pembinaan moral dan akhlak seseorang. Keterbatasan dana dan fasilitas membatasi gerak dalam memajukan pendidikan.

Anggaran dana yang tersedia hanya mampu membina generasi-generasi dari strata menengah ke atas, lalu bagaimana nasib pendidikan bagi generasi-generasi bangsa dari strata bawah??? Selain itu juga penghargaan terhadap guru yang masih kurang, bukankah seorang guru adalah tulang punggung kemajuan pendidikan suatu bangsa yang memberantas kebodohan.

100 tahun Kebangkitan Nasional harus menjadi pelajaran bagi kita, bahwa tidak ada suatu hal yang sia-sia jika kita melakukannya dengan niat yang sungguh-sungguh dan semangat yang tinggi. Begitu pula harapan bagi pendidikan kita.

Mengapa masih ada saja anak-anak yang tidak sekolah atau pun putus sekolah??? Padahal mereka juga berhak untuk mengenyam pendidikan seperti yang lain. Kehidupan yang mereka jalani lebih keras menuntut mereka untuk bekerja siang dan malam demi sesuap nasi.

Bukankah seharusnya ada celah bagi mereka untuk bisa melanjutkan sekolahnya lagi.
Pemerintah pun telah memberikan bantuan salah satunya yaitu BOS yang bisa dimanfaatkan untuk menunjang pendidikan anak-anak yang kurang mampu. Seharusnya kita memanfaatkan bantuan yang sudah diberikan pemerintah ini untuk kepentingan anak-anak yang berhak mendapatkannya.

Bukankah kita seharusnya merasa malu pada negara lain yang sama seperti negara kita yang sedang berkembang. Negara kita dipenuhi oleh orang-orang kaya dan pengusaha-pengusaha sukses tapi nyatanya kita larut dalam krisis ekonomi. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin dan tersingkir.

Mengapa dalam dunia pendidikan tidak terlalu ada kemajuan dan pemerataan. Biaya sekolah yang semakin hari semakin meningkat pada kenyataannya menekan masyarakat strata bawah yang mengakibatkan mereka putus sekolah. bukankah dengan bersekolah dan menuntut ilmu kita bisa menjadi orang-orang pintar, terpelajar dan suatu saat bisa menjadikan kita sebagai orang yang sukses tapi apabila tidak bisa bersekolah bukankah kita akan bodoh dan dengan begitu kita bisa dibodohi oleh orang lain yang lebih pintar dari kita lalu apa bedanya dengan zaman penjajahan dulu??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: